Mengenal Suku Baduy

Suku Baduy adalah salah satu suku di Indonesia yang masih memegang teguh nilai kepercayaan secara turun temurun. Mereka mengasingkan diri dari dunia luar. Masyarakat Baduy tinggal di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Suku Baduy menyebut dirinya Urang Kanekes atau orang Desa Kanekes yang taat pada pimpinan adat tertinggi yaitu Pu’un. Seperti yang kita ketahui, Suku Baduy terdiri atas Baduy dalam (Tangtu) dan Baduy luar (Panamping).



Masyarakat Baduy Dalam adalah Kelompok masyarakat yang hidup dengan memegang teguh ajaran adat istiadat leluhur mereka secara turun menurun serta murni dan konsisten. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar mematuhi kostep Pikukuh ( apa adanya ). Mereka sangat terikat denga hukum adat dan mereka mengemban tugas penting untuk menjaga keseimbangan alam. Mereka menolak segala perkembangan zaman dan mengasingkan diri dari dunia luar.

Ketika berpergian mereka selalu meggunakan pakaian putih dengan ikat kepala atau Lomar berwarna putih yang ditenun dan dijahit dengan tangan. Ketika mereka berkunjung kesuatu tempat pun, masyarakat baduy dalam tetap mempertahankan adat mereka dengan cara berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.

Masyarakat Baduy Dalam ( Tangtu ) juga tidak pernah memakai odol, sabun dan bahan lainnya yang mengandung kimia di kehidupan sehari-harinya karena dinilai akan mencemari lingkungan. Jadi ketika mereka membangun rumah dan jembatan pun mereka tidak menggunakan palu dan paku, mereka membangun dengan hasil alam mereka.

Masyarakat baduy dalam pun menolak kedatangan warga negara asing karena jika mereka melanggar mereka akan dikenakan hukum adat.

Sementara Masyarakat Baduy Luar adalah Masyarakat suku baduy yang terbuka akan perkembangan zaman, sehingga masyarakat baduy luar selalu update dengan perkembangan dan arus informasi setiap saat. Mereka juga sudah banyak yang memiliki hadphone dan walaupun tetap tidak ada listrik di rumah mereka namun beberapa rumah ada yang menggunakan tenaga surya.

Untuk Mayarakat Baduy luar ( panamping ), mereka menggunakan pakaian hitam dan ikat kepala atau Lomar berwarna biru tua. Pakaian hitam mereka menandakan bahwa mereka sudah terkontaminasi budaya lain.

Walaupun Suku Baduy telah terbagi menjadi dua golongan namun bukan berarti perpecahan dalam suku Baduy karena masing-masing golongan tetap memiliki tugas untuk menjaga alam.

Suku Baduy menganut ajaran Sunda, biasa disebut Sunda Wiwitan. Mereka berdoa dengan cara merawat keseimbangan alam. Salah satu cara mereka menjaga alam adalahh dengan menyimpan padi di lumbung dan padi disimpan untuk menjaga kemungkinan penceklik sehingga mereka tidak kelaparan. Cara bercocok tanam mereka pun sangat ramah lingkungan dengan tidak mengganti struktur alam seperti dibuat terasering.

Masyarakat Suku Baduy memiliki dan melaksanaan amanah dari leluhur atau Pikukuh Karuhun mereka. Pikukuh Karuhun adalah sejenis adat istiadat yang mengatur kehidupan masyarakat Suku Baduy baik dalam kehidupan sehari-hari, acara adat dan upacara adat yang harus dilaksanakan oleh masyarakat suku Baduy, Salah satu upacaranya adalah Upacara Seba.

-> Baca juga Tentang Upacara Seba

Masyarakat Suku Baduy Menikah di usia muda dan harus dengan suku mereka sendiri. Jika masyarakat suku Baduy menikah dengan orang dari luar maka mereka akan dikeluarkan dari desanya.

Keunikan dari suku Baduy adalah mereka memelihara ayam namun tidak untuk dimakan. Mereka hanya memeliharanya seperti layaknya seekor kucing. Nama mereka pun hanya terdiri dari dua penggalan kata dan uniknya lagi nama anak laki-laki mereka mewarisi huruf depan ibu dan anak perempuan mewarisi huruf depan dari bapak.

Referensi : Bungakrisan.co dan sayanusantara.blogspot.com


EmoticonEmoticon